Utang Retasi Macet, Proyek Bronjong Rp40,8 Miliar di Kota Maba Terancam Mangkrak

Sebarkan:
Ketua dan anggota Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Maba
HALTIM - Proyek normalisasi kanal dan pembangunan bronjong di Kota Maba, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) senilai Rp40,8 miliar terancam mangkrak. Pasalnya, puluhan sopir truk yang tergabung dalam Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Maba menghentikan operasional pengangkutan material akibat macetnya pelunasan sisa utang retasi (ongkos angkut) senilai Rp250 juta oleh pihak kontraktor pelaksana.

Ketua Organda Kota Maba, Ilman Salasa, SE, mengungkapkan bahwa dari total kewajiban piutang sebesar Rp400 juta yang dijanjikan rampung dalam waktu dekat, pihak rekanan CV Andalan Putra Sejati baru merealisasikan pembayaran sebesar Rp150 juta setelah tertunda selama tiga bulan.

"Kami menunggu selama tiga bulan, pihak rekanan baru membayar Rp150 juta dari total piutang Rp400 juta. Padahal, kami berharap pembayaran dilakukan secara keseluruhan," ujar Ilman saat dikonfirmasi, Kamis (5/11/2026).

Ilman merinci, dana sebesar Rp150 juta tersebut jauh dari kata cukup untuk menutupi biaya operasional 83 unit truk pengangkut material batu bronjong paket I dan II. Jika dibagi rata, setiap pemilik truk hanya menerima sekitar Rp1,8 juta. Jumlah itu bahkan tidak memadai untuk melunasi utang bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang hampir setiap hari ditagih oleh pihak penyuplai.

Akibat kebuntuan tersebut, Organda mengambil sikap tegas dengan menyetop sementara seluruh aktivitas pengangkutan material hingga ada kepastian pelunasan sisa utang.

Upaya konfirmasi yang dilayangkan kepada Arifin selaku pengawas lapangan dari pihak rekanan belum membuahkan hasil konkret. Menurut Ilman, pihak pengawas hanya meminta waktu untuk berkoordinasi dengan manajemen pusat namun belum menunjukkan realisasi pembayaran.

"Arifin hanya janji-janji manis, tetapi realisasinya nol besar," keluh Ilman.

Hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen kontraktor pelaksana maupun Dinas Perkim Kabupaten Halmahera Timur belum memberikan keterangan resmi terkait ancaman mangkraknya proyek strategis senilai puluhan miliar rupiah tersebut. (Ono)
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini