![]() |
| Ilustrasi Bansos. (Istimewa) |
MOROTAI – Program Bantuan Sosial (Bansos) “Serba Dua Juta” yang digadang-gadang sebagai program unggulan Bupati Morotai Rusli Sibua dan Wakil Bupati Rio Christian Pawane, kini memantik polemik. Puluhan janda dan lansia di Desa Dehegila diduga menjadi korban praktik tebang pilih dalam penyaluran bantuan, Minggu (11/01/26).
Sejak awal, program ini diklaim menyasar janda miskin dan lansia yang tidak memiliki penghasilan tetap, dengan kriteria dan syarat tertentu. Namun, realisasi di lapangan justru menunjukkan cerita berbeda.
Program Bansos “Serba Dua Juta” diluncurkan secara seremonial pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan upacara HUT RI di Lapangan Stadion Merah Putih. Bupati Rusli Sibua memimpin langsung launching sekaligus menyerahkan bantuan secara simbolis kepada calon penerima manfaat. Saat itu, program ini dipromosikan sebagai bukti keberpihakan pemerintah kepada kelompok rentan.
Namun di Desa Dehegila, janji tinggal janji.
Berdasarkan data rekap pemerintah desa, puluhan janda telah diajukan ke Dinas Sosial sesuai kriteria yang diminta. Faktanya, hanya satu nama yang akhirnya lolos sebagai penerima bantuan.
Nama itu Ida Bone.
Masalahnya, setelah ditelusuri, Ida Bone diketahui merupakan aparatur desa (Kaur) di Pemdes Dehegila. Fakta ini memunculkan pertanyaan serius, apakah program untuk janda miskin justru disalurkan kepada mereka yang berada di lingkar kekuasaan desa?
Sementara itu, sejumlah janda lain yang lebih layak justru tersingkir. Beberapa di antaranya mengaku kecewa dan merasa diperlakukan tidak adil.
“Kami kesal. Banyak janda yang benar-benar tidak punya penghasilan, tapi tidak dapat. Justru yang dapat itu orang kantor desa,” ungkap salah satu janda yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Kepala Desa Dehegila, Sahbudin Surabi, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengirim data puluhan janda ke Dinas Sosial.
“Iya, kemarin kita sudah ajukan data nama-nama janda, sekitar puluhan janda ke dinas sosial sesuai yang diminta. Namun hanya dua orang yang diakomodir. Itupun yang satu sudah meninggal, jadi tinggal satu orang,” ujar Sahbudin.
Ia juga membantah tudingan bahwa Ida Bone sebagai satu-satunya penerima adalah aparatur desa.
“Kalau disebut yang menerima itu Kaur Desa, itu tidak benar,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Sosial Morotai, Ansar Tibu, hingga berita ini diturunkan, belum memberikan tanggapan meski telah dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp dan panggilan telepon.
Publik kini menanti kejelasan. Apakah Bansos “Serba Dua Juta” benar-benar untuk janda miskin? Atau sekadar program populis yang di lapangan berubah menjadi bancakan segelintir orang? (Ode)
