Warga Keluhkan Rumah Sakit Rujukan Pulau Obi Krisis Obat

Sebarkan:
RSU Obi. (Foto/Zul)
HALSEL - Keluhan terhadap layanan kesehatan kembali mencuat dari Rumah Sakit Umum (RSU) Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Warga dari sejumlah desa di Pulau Obi mengaku resah karena sering kali pulang berobat tanpa obat, hanya membawa selembar resep untuk ditebus di apotek swasta.

Keluhan itu disampaikan warga dari Desa Buton, Laiwui, Akegula, Desa Baru, Jikotamo, Sambiki, hingga Anggai. Menurut pengakuan warga, praktik tersebut bukan kejadian baru, melainkan telah berlangsung cukup lama dan kian memberatkan masyarakat.

Seorang warga Desa Buton, Ena (34 tahun), mengatakan, harapan masyarakat datang ke rumah sakit adalah memperoleh pelayanan pengobatan secara utuh, termasuk obat-obatan. Namun yang sering terjadi justru sebaliknya.

“Kalau torang berobat ke rumah sakit, torang berharap pulang sudah bawa obat. Tapi yang sering terjadi, pasien hanya dikasih resep lalu disuruh beli obat sendiri di apotek. Ini sangat menyulitkan, apalagi bagi warga yang tidak mampu,” ujar Ena, Senin, 2 Februari 2026.

Menurutnya, beban masyarakat tidak berhenti pada biaya transportasi menuju rumah sakit yang jaraknya jauh dari desa-desa pesisir. Pasien masih harus mengeluarkan uang tambahan untuk membeli obat di luar rumah sakit. Dalam sejumlah kasus, obat yang diresepkan bahkan tidak tersedia di apotek terdekat, sehingga pasien harus berkeliling mencari obat ke tempat lain.

“Banyak warga datang dari desa-desa jauh dengan harapan bisa ditangani maksimal. Tapi karena obat tidak ada, pengobatan jadi tertunda atau tidak optimal,” katanya.

Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan fungsi rumah sakit umum sebagai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan, terlebih bagi pasien peserta BPJS Kesehatan yang seharusnya mendapatkan layanan pengobatan dan obat-obatan dasar tanpa beban tambahan.

Dikonfirmasi terpisah, Direktur RSU Obi, dr. Diky Hardiansyah, membenarkan keterbatasan stok obat di rumah sakit tersebut. Ia mengakui bahwa dalam kondisi tertentu pihak rumah sakit terpaksa hanya memberikan resep kepada pasien.

“Memang benar, stok obat di RSU Obi saat ini masih terbatas. Dalam kondisi tertentu, kami hanya bisa memberikan resep untuk ditebus di apotek,” ujar dr. Diky.

Ia menjelaskan, keterbatasan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari keterlambatan distribusi obat, keterbatasan anggaran, hingga proses pengadaan yang harus melalui mekanisme administrasi.

Meski demikian, kata dia, manajemen RSU Obi tengah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan untuk mencari solusi agar ketersediaan obat dapat ditingkatkan.

“Kami memahami keluhan masyarakat dan terus berupaya agar pelayanan tetap berjalan. Harapannya ke depan stok obat bisa lebih lengkap sehingga pasien tidak lagi terbebani,” katanya.

Warga berharap pemerintah daerah tidak sekadar menerima laporan, tetapi segera mengambil langkah konkret. Ketersediaan obat di rumah sakit dinilai sebagai hak dasar masyarakat atas pelayanan kesehatan yang layak, terjangkau, dan tidak diskriminatif terutama bagi warga pulau dan desa terpencil. (Punkzul/Red)

Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini