Usut Proyek Sabo Dam Rua, Polda Malut Panggil Pejabat Pembuat Komitmen

Sebarkan:
Proyek Sabo Dam Rua Ternate milik BWS Malut. (Kh)
TERNATE – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Maluku Utara mulai bergerak mengusut dugaan penyimpangan pada proyek pembangunan pengendali banjir (Sabo Dam) di Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate.

Proyek strategis nasional ini menjadi sorotan setelah terendus adanya indikasi cacat mutu serius pada struktur bangunannya.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, Irwan Muhammad, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima surat panggilan dari penyidik Polda untuk memberikan klarifikasi.

"Saya sudah mendapatkan surat panggilan. Besok kami akan menghadap," ujar Irwan kepada wartawan, Selasa, 14 April 2026.

Meski demikian, Irwan mengaku belum mengetahui apakah Kepala Satuan Kerja (Kasatker) maupun Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Utara turut dipanggil dalam pusaran kasus ini.

Dugaan Cacat Struktur yang "Dipoles"

Tampak poles-poles di pada bangunan. 
Proyek senilai Rp 42,3 miliar yang bersumber dari APBN ini dikerjakan oleh PT Bukaka Pesisir Indah. Meski sempat mendapatkan adendum perpanjangan waktu pengerjaan, hasil akhir proyek di bawah kendali BWS Maluku Utara ini justru menuai kritik tajam. Kualitas konstruksi diduga melenceng dari spesifikasi teknis yang disyaratkan.

Berdasarkan penelusuran di lapangan, ditemukan indikasi segregasi pada mayoritas dinding Sabo Dam. Fenomena ini ditandai dengan terpisahnya agregat kasar (kerikil) dari pasta semen, yang mengakibatkan beton menjadi porus dan berongga (honeycombing). Kondisi ini secara teknis sangat membahayakan kekuatan struktur bangunan dalam menahan terjangan banjir.

Indikasi segregasi.
Alih-alih melakukan perbaikan struktural permanen seperti grouting atau pengecoran ulang, ditemukan dugaan upaya "kamuflase". Cacat pada beton tersebut disinyalir sengaja ditutupi dengan lapisan plesteran semen tipis untuk mengelabui pemeriksaan kasat mata.
Tak hanya itu, sejumlah titik bangunan juga terpantau mulai mengalami keretakan, memperkuat dugaan adanya manipulasi kualitas material demi mengejar tenggat waktu.* (Tim/Red)
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini