![]() |
| Kondisi kwasan Central Business District (CBD). |
Pantauan di lapangan pada Senin malam, 18 Mei 2026, pemandangan paling mengenaskan terlihat di area Pusat Jajanan Kuliner dan Cinderamata (PJKC). Kawasan yang harusnya menjadi urat nadi ekonomi malam hari itu justru gulita.
Data yang dihimpun menunjukkan ada lebih dari 200 titik lampu jalan dari area Masjid Raya Baiturrahman hingga Gedung Oikumene yang telantar dan padam berbulan-bulan.
Abainya pemerintah daerah mulai memantik dongkol di kalangan warga. Sutikno, seorang pengunjung setia kawasan CBD, menyayangkan sikap pasif pemerintah. Menurut dia, pembiaran ini tidak hanya mematikan nadi estotika kota, tetapi juga membuka ruang bagi kriminalitas.
"Kalau dibiarkan terus, ini mengundang kecelakaan lalu lintas. Belum lagi sudut-sudut gelap itu rawan dipakai jadi tempat mabuk-mabukan," ketus Sutikno.
Senada dengan Sutikno, Endy, warga setempat, mengeluhkan respons pemerintah yang lambat luar biasa. Kawasan yang dulunya terang-benderang dan menjadi magnet keramaian warga itu kini perlahan sepi dan mencekam.
Ironisnya, di tengah sorotan publik yang kian tajam, pejabat berwenang justru memilih mengunci mulut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Pulau Morotai, Djasmin Taher, berulang kali menghindar saat dikonfirmasi. Hingga laporan ini diturunkan, Djasmin tetap bungkam, menambah panjang daftar ketidakpedulian birokrasi terhadap fasilitas publik yang dibiayai uang rakyat.
(Ode/Red)
