HGN 2025: Guru SLBN Maba Ungkap Tantangan dan Harapan bagi Pendidikan Disabilitas di Haltim

Sebarkan:
Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Ulfa Kader.
HALTIM - Memperingati Hari Guru Nasional (HGN) pada 25 November 2025, Kepala Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Ulfa Kader, menegaskan bahwa momentum tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi pengingat atas tantangan nyata yang dihadapi para guru, khususnya pendidik di sekolah luar biasa.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (27/11/2025), Ulfa menyampaikan bahwa menjadi guru di SLB memiliki tantangan berbeda dibanding sekolah umum. Para pendidik harus memiliki kesabaran ekstra karena berhadapan dengan siswa penyandang disabilitas, baik fisik maupun mental, seperti tuna rungu, tuna netra, dan lainnya.

“Meski memiliki keterbatasan, anak-anak di SLB sangat bersemangat untuk bersekolah. Kami merasa bersyukur sekaligus termotivasi dalam membimbing mereka, meskipun proses pembelajarannya memerlukan waktu yang lebih panjang,” ujarnya.

Ulfa menambahkan, peringatan Hari Guru harus dimaknai dengan penuh syukur dan cinta dalam mendidik anak bangsa. Menurutnya, siswa disabilitas juga memiliki kemampuan yang patut dibanggakan. Ia mencontohkan bahwa beberapa siswa SLBN Maba pernah menjuarai lomba tingkat nasional bahkan membawa pulang medali emas.

“Keberhasilan tersebut merupakan buah kerja keras para guru dan dukungan orang tua. Apresiasi layak diberikan kepada semua pihak yang turut berperan,” tambahnya.

Meski berada di bawah naungan Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Ulfa mengaku SLBN Maba tetap membutuhkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur. Ia menegaskan bahwa anak-anak disabilitas merupakan putra-putri daerah yang juga akan menjadi generasi penerus bangsa.

Selain dukungan fasilitas, Ulfa berharap pemerintah pusat, provinsi, maupun Pemda Haltim dapat membantu menyediakan guru bahasa isyarat. Menurutnya, ketiadaan tenaga khusus tersebut membuat pihak sekolah kewalahan menghadapi siswa yang hanya dapat berkomunikasi melalui bahasa isyarat.

“Kami sangat membutuhkan guru isyarat. Ini penting agar proses belajar mengajar dapat berlangsung maksimal,” harapnya.

====
Penulis: Wahono Side
Editor   : Tim Redaksi
Sebarkan:
Komentar

Berita Terkini