![]() |
| Desa Buton, Kecamatan Obi, hamparan hijau padi mulai menyembul di antara sela-sela aktivitas industri nikel yang masif. |
Di atas lahan seluas 10,5 hektare, transformasi itu dimulai secara maraton sejak tahun 2023. Para petani setempat memutuskan untuk mengonversi lahan mereka menjadi area produktif tanaman pangan pokok. Langkah ini bukan sekadar percobaan, melainkan strategi bertahan hidup dan kemandirian pangan di tengah kepulauan.
Langkah berani ini mendapat sokongan dari Harita Nickel, salah satu raksasa industri pertambangan nikel yang beroperasi di Pulau Obi, melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Pendampingan di Garis Depan
Para petani yang terlibat terbagi dalam beberapa kelompok, di antaranya Kelompok Tani Batu Putih dan Kelompok Tani Akemoriri. Mereka tidak dibiarkan bertarung sendiri di sawah. Tim Corporate Social Responsibility (CSR) Harita Nickel bersinergi dengan tim Perintis Kedaulatan Pangan (Pelangi) memberikan asistensi teknis.
"Kami memberi pendampingan langsung dan mengawasi program PPM Harita Nickel. Pihak Harita Nickel juga membantu pembukaan lahan, dan bantuan alat produksi guna menunjang proses penanaman dan panen," ujar Ketua Pelangi, Darwan Abdu Hasan, Rabu (21/1/2026).
Selain dukungan swasta, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) turut ambil bagian. Sinergi lintas sektor ini membuahkan hasil yang cukup signifikan bagi ukuran sawah baru di wilayah kepulauan. Dalam sekali panen, petani mampu meraup hasil sebanyak 35 ton dari 7 hektare sawah yang telah dikelola.
Membidik Kemandirian Lokal
Beras hasil keringat petani lokal ini ternyata menjadi primadona baru. Darwan menyebutkan bahwa saat ini pengembangan sawah terus dilakukan melalui pembongkaran lahan baru.
"Hasil panen, kami jual ke masyarakat. Biasanya tidak sampai seminggu, itu sudah habis. Kami jual (padi) sudah dalam bentuk beras. Harganya per kilo Rp15 ribu. Ini harga yang terjangkau," jelas Darwan.
Target besar telah dipancang. Bersama Harita Nickel, para petani membidik perluasan sawah hingga di atas 100 hektare. Pasalnya, serapan pasar saat ini masih jauh lebih tinggi dibanding kapasitas produksi yang ada.
"Dalam setahun, itu dua sampai tiga kali panen. Kami menargetkan ke depan, semua warga Obi mengonsumi beras lokal, yang merupakan hasil tanam petani lokal," tutur Darwan.
Lumbung Pangan dan Regenerasi
Bagi Darwan, yang merupakan putra asli Desa Buton, proyek ini adalah soal harga diri daerah. Ia berkeinginan agar pemasaran beras dari kelompok tani mereka bisa menjangkau seluruh konsumen di wilayah Halmahera Selatan (Halsel). Cita-citanya tegas: Pulau Obi harus menjadi lumbung pangan nasional melalui peningkatan produktivitas.
"Ini dalam rangka mendukung ketahanan dan kemandirian pangan desa. Di samping itu, kita dapat memutus rantai pasok beras dari luar daerah, kalau hasil produksi petani sudah besar. Kalau sudah besar, maka ada serapan tenaga kerja," terangnya.
Momentum bersejarah bagi warga Desa Buton dijadwalkan terjadi pada Jumat, 23 Januari 2026. Panen raya akan digelar dengan kehadiran Bupati Halsel, Bassam Kasuba, beserta jajaran Forkopimda.
Mantan Ketua Wilayah LMND Maluku Utara ini juga menambahkan bahwa agenda tersebut akan dirangkaikan dengan penguatan struktur petani masa depan. "Insyaallah Pak Bupati hadir untuk panen raya. Sekaligus, beliau melakukan pengukuhan Kelompok Tani Milenial. Kelompok tani ini, di dalamnya adalah para pemuda yang bergerak di sektor pertanian, termasuk holtikultura," tandas Darwan. *
====
Penulis: Punkzuk
Editor : Tim Redaksi
